Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Apa itu Energi Positif Kehidupan

0
         Di setiap langkah kehidupan adakalanya kita mengalah dan mengalahkan, tetapi saat kita mengalahkan kita harus melihat sebagaimana hati, perasaan, dan tindakan seseorang yang kita kalahkan apakah dia bisa menerima kondisi keputusan kita dan  pemikiran yang kita ambil. Sesekali kita harus melihat itu semua agar walaupun kita mengakhiri semuanya kita harus menjaga kerukunan dan keselarasan dalam hidup ini….
Ada pepetah mengatakan “jika kita memberikan energy positif kepada lingkungan maka lingkungan akan memberikan energi positif juga ke kita”, dari kata-kata tersebut dapat di ambil kesimpulan bahwa seseorang yang memberikan hal baik ke sesama tanpa menyakiti hati dan perasaan sang korban atau seseorang maka dunia dan orang sekitar kita akan memberikan hal yang baik juga ke kita itulah yang dimaksud dengan feedback positip dalam kehidupan…
Saya sebagai penulis ingin membuat kehidupan seperti itu entah apa yang terjadi dalam kehidupan saya pahit, asam atau manis semoga saya bisa menjadi pribadi yang lebih – lebih baik lagi kedepanya dan selalu memberikan energi positip kita ke orang sekitar kita… :-)


                                                                                                                                                                                Sunu Pratomo

Mukjizat dari sebuah Doa [Renungan]

0



Adalah Dewi, seorang Ibu kumuh dengan baju kumal, masuk ke dalam sebuah supermarket.
 
Dengan sangat terbata-bata dan dengan bahasa yang sopan ia memohon agardiperbolehkan mengutang. Ia memberitahukan bahwa suaminya sedang sakit dan sudah seminggu tidak bekerja. Ia memiliki lima orang anak yang sangat membutuhkan makan untuk hari ini.

Andi, si pemilik supermarket, mengusir dia keluar. Sambil terus menggambarkan situasi keluarganya, si ibu terus menceritakan tentang keluarganya. 'Tolonglah, Pak, Saya janji akan segera membayar setelah aku punya uang.”

Andi tetap tidak mengabulkan permohonan tersebut. "'Anda tidak mempunyai kartu kredit, anda tidak mempunyai garansi", alasannya.

Di dekat counter pembayaran, ada seorang pelanggan lain, yang dari awal mendengarkan percakapan tadi. Dia mendekati keduanya dan berkata :
"Saya akan bayar semua yang diperlukan Ibu ini."

Karena malu, si pemilik toko akhirnya mengatakan, "Tidak perlu, Pak. Saya sendiri akan memberikannya dengan gratis. Baiklah, apakah ibu membawa daftar belanja?"

"Ya, Pak. Ini", katanya sambil menunjukkan sesobek kertas kumal.

"Letakkanlah daftar belanja anda di dalam timbangan, dan saya akan memberikan gratis belanjaan anda sesuai dengan berat timbangan tersebut." kata si pemilik toko.

Dengan sangat ragu-ragu dan setengah putus asa, Dewi menundukkan kepala sebentar, menuliskan sesuatu pada kertas kumal tersebut, lalu dengan kepala tetap tertunduk, meletakkannya ke dalam timbangan.

Mata Si pemilik toko terbelalak melihat jarum timbangan bergerak cepat ke bawah

Ia menatap Pelanggan yang tadi menawarkan si ibu tadi sambil berucap kecil, "Aku tidak percaya pada yang aku lihat."

Si pelanggan baik hati itu hanya tersenyum. Lalu, si ibu kumal tadi mengambil barang-barang yang diperlukan, dan disaksikan oleh pelanggan baik hati tadi. Si Pemilik toko menaruh belanjaan tersebut pada sisi timbangan yang lain. Ternyata jarum timbangan tidak kunjung berimbang, sehingga si ibu terus mengambil barang-barang keperluannya dan si pemilik toko terus menumpuknya pada timbangan, hingga tidak muat lagi.

Si Pemilik toko merasa sangat jengkel dan tidak dapat berbuat apa-apa.
Karena tidak tahan, Si pemilik toko diam-diam mengambil sobekan kertas daftar belanja si ibu kumal tadi. Dan ia-pun terbelalak. Di atas kertas kumal itu tertulis sebuah doa pendek,

"Tuhan, Engkau tahu apa yang hamba perlukan. Hamba menyerahkan segalanya ke dalam tanganMu."

Si Pemilik Toko terdiam. Si Ibu, Dewi, berterima kasih kepadanya, dan meninggalkan toko dengan belanjaan gratisnya. Si pelanggan baik hati bahkan memberikan selembar uang 50 dollar kepadanya.

Si Pemilik Toko kemudian mengecek dan menemukan bahwa timbangan yang dipakai tersebut ternyata tidak rusak.

Ternyata memang hanya Tuhan yang tahu bobot sebuah doa.

*****

Well guys, Kesimpulan dari kisah diatas, beberapa yang dapat kami sampaikan.

Terkadang manusia adalah kita semua ini, sering melupakan atau bahkan mengerti tetapi tidak memahami atas nikmat rezeki yang diberi.

Mulailah untuk belajar bersyukur melalui doa atas apa yang didapat walaupun kecil atau belum sama sekali. Karena dengan bersyukur, kita akan mengetahui bagaimana yang kita namai kehidupan bahagia yang sederhana.

Usaha tanpa doa, itu sama halnya berlari tanpa kaki dan tak akan pernah dapat untuk memakai sepatu.

 “Usahalah kamu dan berdolah kamu dan percayakan kepada Tuhan”

Tuhan adalah Sang Maha Mendengar juga Maha Melihat. Dia bisa melihat atas usaha yang kita lakukan dan Dia juga bisa Mendengar atas apa yang kita ucapkan.


Have anice Monday guys ^_____^)b


by : http://terimakasihibu.blogspot.com

Share this history on :

Kehidupan selama satu jam tanpa [Renungan]

0

Suatu hari ketika Irf pulang kerja, Biyan si putri kecilnya langsung berlari dan dapeti ke Ayahnya dan bertanya,

"Yah, apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita ini?".
Ayahnya memandang kepada putri kecilnya itu dan berkata, "Tidak, nak".

Putri kecil ini kemudian memandang Ayahnya dan berkata,
"Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun?"
Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada putrinya.

"Oh iya Ayah, bagaimana kalau dalam satu bulan, apakah kita bisa hidup tanpa melakukan kesalahan?"
Ayahnya tertawa, "Mungkin tidak bisa juga, nak".

"OK Ayah, ini yang terakhir kali, apakah kita bisa hidup tidak berdosa dalam satu jam saja?".
Akhirnya ayahnya mengangguk, "Kemungkinan besar, bisa nak ".

Biyan tersenyum lega.
"Jika demikian, aku akan hidup benar dari jam ke jam, Ayah. Lebih mudah menjalaninya, dan aku akan menjaganya dari jam ke jam, sehingga aku dapat hidup dengan benar...."

Banyak hal yang dapat diambil hikmah dari cerita mini diatas,
Kita hidup dari waktu ke waktu, dengan memperhatikan cara bagaimana menjalani hidup. Dari hal yang paling kecil, sederhana sekalipun, akan menjadikannya terbiasa, dan apa yang sudah biasa dilakukan akan menjadi sebuah sifat yang berubah jadi sebuah karakter, melalui karakter akan menjadi destiny.

*****

Well guys,
Kira-kira bisa tidak, kita menjalani kehidupan selama satu jam TANPA,
Tanpa dengki,
Tanpa benci,
Tanpa kemarahan,
Tanpa hati yang jahat,
Tanpa pikiran negatif,
Tanpa menjelekkan orang,
Tanpa keserakahan,
Tanpa pemborosan,
Tanpa kesombongan,
Tanpa kebohongan,

Ayuk kita coba, mudah-mudahan bisa dan harus bisa (^______^).


by : http://terimakasihibu.blogspot.com

Mereka juga sama dengan kita [Renungan]

0

Dewasa ini banyak yang berpikir bahwa 'pertumbuhan' adalah, perhitungan umur dari sejak kecil menuju dewasa dan seseorang yang telah dewasa itu dianggap sudah berhenti untuk tidak tumbuh. Bahwa semakin dewasa, pada dasarnya kita semakin mengerti akan tentang sifat dan keinginan orang tua (AyahIbu).

Entahlah harus dimulai dari mana, berbicara tentang orang tua (AyahIbu), adalah berbicara tentang cinta dikehidupan ini, cinta yang datang dengan sendiri, cinta tentang dua hati manusia yang kita cintai.

Sebagai keturunan dari garis keluarga orang tua, pertumbuhan sesungguhnya itu tidak didasarkan pada sebuah sirkulasi umur. Seseorang akan tetap senantiasi tumbuh dan berkembang mulai dari pemikiran, pemahaman, perasaan, kebijakan, pengetahuan, apa yang mereka lihat, apa yang mereka dapatkan sesuai dengan kemajuan zaman.

Banyak juga yang beranggapan bahwa sebuah kehidupan baru itu hanya milik yang muda, bukan milik yang tua. Bahwa mulai dari suara tangis bayi, merangkak, bisa berjalan, hingga sekolah, mendapatkan pekerjaan, dan menikah, lalu punya anak dan seterusya, dan sirkulasi ini serig disebut dengan 'perjalanan menempuh hidup baru'.

Bahwa 'menempuh hidup baru' ini adalah juga bagian dari kehidupan Ayah dan Ibu selaku orang tua. Mereka selalu berhak untuk menempuh hidup baru setiap harinya, mendapatkan semangat baru setiap hari. Kebahagiaan baru dan berhak mendapatkan sebuah senyuman yang baru setiap harinya.
Beranjak tuanya usia mereka, tidak sedikitpun mengurangi hak hidup mereka untuk merasakan berbagai hal baru.

Mereka berhak mendapatkan kebahagiaan material yang baru.
Mereka berhak mendapatkan pencerahan yang baru.
Mereka berhak sepenuhnya mendapatkan suasana baru.
Mereka juga berhak mendapatkan pengalaman dan petualangan baru.
Mereka adalah manusia yang sama. Sebagai energi kehidupan yang pernah lahir kedunia.

Mereka jiwa yang sama murninya seperti kita pada saat lahir.
Mereka jiwa yang didoakan oleh orangtua mereka saat lahir.
Mereka adalah jiwa yang sama, yang disambut ke dunia dengan doa dan harapan dari orang tua mereka. Sampai kapanpun, orang tua adalah sumber dan energi kehidupan yang sama, yang tidak lepas dari doa dan harapan orang tuanya mereka.


Sehingga,
Mereka adalah bayi yang sama.
Mereka adalah anak dari orang tua mereka
Mereka api dan semangat yang sama pada saat lahir hadir di dunia ini. Seperti kita pada saat lahir dan sepanjang masa pertumbuhan kita menuju dewasa.
Mereka juga selalu di iringi doa dan harapan dari orang tua mereka.
Mereka berhak sepenuhnya untuk selalu merasakan kehidupan, perkembangan dan pertumbuhan, hidup baru setiap hari.

Kedua orang tua adalah penerus dari keturunan sebelumnya, seperti kita penerus dari orang tua kita. Hak mereka sama. Tuanya usia mereka, tidak sedikitpun mengurangi hak hidup untuk merasakan berbagai hal baru, untuk merasakan 'pertumbuhan dan perkembangan'.

Oleh karenanya, berilah mereka selalu,
Sebuah harapan baru
Sebuah semangat baru
Sebuah senyum yang baru
Dan sebuah tawa yang baru.


Bahkan jika kita sebagai anak apabila dikarunia rejeki yang cukup bahkan berlebihan, berilah mereka kebahagiaan material yang baru, mobil baru, rumah baru, pakaian baru, mencoba berbagai menu makanan baru. Ajaklah mereka berlibur mendapatkan suasana baru, mencoba makanan baru, mendengarkan musik yang baru, melihat pemandangan yang baru, membaca jenis bacaan yang baru. Apapun yang baru, tetap dan akan selalu menjadi hak mereka. Bukan hanya hak kita sebagai sang anak.

Mereka juga menyenangi hal-hal yang bisa membuat mereka tertawa dan tersenyum seperti kita. Jangan lepaskan aspek kehidupan dari diri mereka.

Mereka manusia yang sama, yang tetap ingin bersinar. Berilah mereka, dan biarkanlah mereka bersinar sampai akhir hidup mereka. Berikanlah mereka selalu energi kehidupan.

Lepaslah dan buang jauh status dan fisik mereka sebagai 'orang tua', pada kenyataannya, kita dan mereka adalah mahluk yang berhak sepenuhnya atas kebahagiaan dalam kehidupan.

Sampai pada akhirnya, sebelum mereka dijemput sang ajal, perindahlah usaha yang terbaik saat merawatnya untuk mempermudahkan perjalanannya. Agar mereka bisa tersenyum indah untuk menempuh perjalanan hidup baru mereka pada saat disurga.

They are us. We are them. We are all the same children of the world. We are all the same human being, seeking for a fulfilling life. For love, peace and joy. Let's do it the best for them until the end of time.


by : http://terimakasihibu.blogspot.com

Cinta seorang anak [Renungan]

0

Seorang janda miskin Siu Lan mempunyai putrid cantik berumur 7 tahun bernama Lie Mei. Kemiskinan yang melanda membuat Lie Mei harus membantu ibunya berjualan jajanan kering seperti kue dan roti dipasar, karena miskin itu pula Lie Mei tidak pernah sekali pun bermanja-manja kepada ibunya layaknya teman-teman disekitar rumahnya.

Musim dingin pun tiba dan ketika selesai bikin kue dan roti, Siu Lan melihat keranjang kuenya sudah rusak dan Siu Lan berpesan pada Lie Mei untuk nunggu dirumah karena ia akan membeli keranjang baru.

Setibanya Siu Lan pulang kerumah, ia tidak menemukan Lie Mei. Siu Lan langsung naik pitam dan sangat marah. “Benar-benar tidak tau diri, hidup susah tapi masih juga pergi main-main, padahal tadi sudah dipesan agar menunggu rumah.” Ucapnya.

Akhirnya Siu Lan pergi sendiri menjual kue dan roti. Sebagai hukumannya untuk Lie Mei, pintu rumahnya dikunci dari luar agar Lie Mei tidak dapat masuk. Putrinya mesti diberi pelajaran, pikirnya geram.

Sepulang dari jual kue Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu tergeletak didepan pintu. Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang membeku dan sudah tidak bernyawa. Jeritan Siu Lan memecah kebekuan salju saat itu. Ia menangis dan meraung-raung, tetapi Lie Mei sudah tetap tidak bergerak.

Siu Lan membopong Lie Mei masuk kerumah lalu mengguncang-guncang tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan nama Lie Mei dengan harap putrid kecilnya kembali sadar. Tiba-tiba sebuah bingkisan kecil jatuh dari tangan Lie Mei. Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu dan membuka isinya.

Didalamnya adalah sebuah biskuit kecil yang dibungkus dengan kertas usang dan tulisan kecil yang ada dikertas dari tulisan Lie Mei yang berantakan tapi dapat dibaca, "Mama pasti lupa, ini hari istimewa bagi mama, aku membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah, uangku tidak cukup untuk membeli biskuit yang besar… Mama selamat ulang tahun".

*******

Emosi adalah lidah bekerja lebih cepat dibandingkan pikiran dan hati. Penyesalan, selalu mengetuk hati ketika semuanya terjadi hingga kehilangan yang membuat tersadar dari tidur yang panjang.

Berpikir negative hanya akan membuat penyesalan itu datang.
Berpikirlah bijak sebelum bertindak.

Anak, suami, istri, mereka semua adalah rumahmu istanamu


by : http://terimakasihibu.blogspot.com